Jam sudah lewat tengah malam, tapi Ardi masih duduk di depan layar. Lampu kamar redup, cuma cahaya monitor yang menerangi wajahnya. Di meja, ada gelas kopi yang sudah dingin, tanda kalau dia sudah main terlalu lama.
“Ini match terakhir di VAKSIN99,” katanya pelan, walau dia sendiri tahu itu kalimat yang sudah dia ucapkan lima kali malam ini.
Game online VAKSIN99 itu sudah seperti rutinitas baginya. Bukan cuma soal menang atau kalah, tapi soal pelarian dari hari yang melelahkan. Di dunia game, dia bisa jadi siapa saja—tank yang kuat, sniper yang tenang, atau mage dengan skill mematikan.
Match dimulai.
Timnya terdiri dari lima orang asing yang belum pernah saling kenal.
Seperti biasa, chat langsung ramai.
“Mid gue.”
“Jangan rebut buff.”
“Main santai aja, bro.”
Ardi cuma mengetik satu kata:
“Gas.”
Awal permainan di VAKSIN99 berjalan cukup baik. Mereka unggul skor. Semua terlihat mudah. Tapi di pertengahan match, satu kesalahan kecil bikin keadaan berubah.
Satu teman timnya terlalu maju. Kalah.
Lalu satu lagi ikut menyusul. Kalah juga.
Skor berbalik.
Chat mulai panas.
“Makanya jangan barbar!”
“Lu juga sama aja!”
“Fix kalah ini.”
Ardi menarik napas panjang. Dia sudah sering ada di situasi seperti ini. Kalau semua fokus marah, tim pasti hancur.
Dia menyalakan mic.
“Tenang. Kita masih bisa menang. Main bareng, jangan sendiri-sendiri.”
Beberapa detik sunyi.
Lalu salah satu tim menjawab, “Oke, ikut lu aja.”
Mereka mulai bermain lebih rapi. Tidak ada yang sok jagoan. Semua bergerak bersama. Perlahan, skor mulai imbang.
Lima menit terakhir jadi penentuan.
Semua tegang.
Ardi melihat kesempatan. Lawan salah posisi.
“Sekarang! Push!”
Timnya maju bersamaan.
Skill keluar satu per satu.
Efek cahaya memenuhi layar.
Lalu tulisan itu muncul:
VICTORY
Ardi tersenyum kecil. Bukan kemenangan besar, bukan turnamen, bukan hadiah uang. Cuma satu match biasa di malam hari.
Tapi rasanya tetap menyenangkan.
Di voice chat, salah satu tim berkata,
“GG, bro. Tadi kalau lu nggak nenangin, kita udah kalah.”
Ardi cuma menjawab,
“Main santai aja.”
Setelah itu, dia logout.
Kamar kembali sunyi.
Besok mungkin dia akan kalah.
Mungkin juga ketemu tim yang bikin emosi.
Tapi satu hal yang pasti—selalu ada cerita baru di setiap match.
Dan seperti biasa,
semua akan dimulai dari kalimat yang sama:
“Ini match terakhir.”

Komentar
Posting Komentar