Jam sudah lewat tengah malam, tapi Ardi masih duduk di depan layar. Lampu kamar redup, cuma cahaya monitor yang menerangi wajahnya. Di meja, ada gelas kopi yang sudah dingin, tanda kalau dia sudah main terlalu lama. “Ini match terakhir di VAKSIN99 ,” katanya pelan, walau dia sendiri tahu itu kalimat yang sudah dia ucapkan lima kali malam ini. Game online VAKSIN99 itu sudah seperti rutinitas baginya. Bukan cuma soal menang atau kalah, tapi soal pelarian dari hari yang melelahkan. Di dunia game, dia bisa jadi siapa saja—tank yang kuat, sniper yang tenang, atau mage dengan skill mematikan. Match dimulai. Timnya terdiri dari lima orang asing yang belum pernah saling kenal. Seperti biasa, chat langsung ramai. “Mid gue.” “Jangan rebut buff.” “Main santai aja, bro.” Ardi cuma mengetik satu kata: “Gas.” Awal permainan di VAKSIN99 berjalan cukup baik. Mereka unggul skor. Semua terlihat mudah. Tapi di pertengahan match, satu kesalahan kecil bikin keadaan berubah. Satu teman timnya terl...
Jam di pojok layar sudah menunjukkan pukul 23.47. Aku masih duduk di depan monitor, headset menempel, tangan di mouse, dan jantung berdetak lebih cepat dari biasanya. “Ini match terakhir di VAKSIN99 . Menang, langsung naik rank,” gumamku. Sudah lima kali aku hampir naik tier, tapi selalu gagal di pertandingan penentuan. Entah karena koneksi tiba-tiba putus, tim yang berantakan, atau kesalahan kecil yang berujung kekalahan besar. Layar loading selesai. Karakterku muncul di arena VAKSIN99 . Pertandingan dimulai. Di awal game, semuanya berjalan normal. Timku cukup solid. Komunikasi di voice chat juga lancar. Bahkan salah satu teman satu tim berkata, “Santai, kita menang ini.” Aku mulai percaya diri. Tapi seperti biasa, game online tidak pernah sesederhana itu. Di pertengahan pertandingan, satu pemain tim kami tiba-tiba disconnect. Posisi langsung kacau. Lawan mulai menekan. Skor berubah cepat. Voice chat yang tadi santai, sekarang penuh suara tegang. “Jangan maju sendiri!” “Tunggu t...