Satu maju tanpa lihat map. Jatuh. Satu lagi ikut. Ikut hilang. Sisanya diam. Bukan mikir—tapi nyalahin. “Udah pasti kalah.” “Team begini mah…” “Report aja nanti.” Ardi nggak langsung ngomong. Dia cuma lihat. Bukan lihat musuh. Tapi lihat timnya sendiri— yang kalah sebelum game selesai. Beberapa detik berlalu. Cukup lama buat semua orang nyerah dalam hati di VAKSIN99 . Baru dia buka mic. Santai. Datar. “Kalau mau kalah, sekalian aja. Tapi kalau masih mau menang… ikut gue.” Sunyi. Kalimatnya nggak panjang. Nggak juga halus. Tapi cukup buat VAKSIN99 bikin mereka mikir ulang. “Iya… coba sekali lagi.” Permainan berubah. Bukan karena skill tiba-tiba naik. Tapi karena ego mulai turun. Nggak ada yang sok jadi pahlawan di VAKSIN99 . Nggak ada yang jalan sendiri. Pelan… rapi… nunggu. Skor yang tadi jauh, pelan-pelan dikejar. Waktu hampir habis. Semua tegang. Ardi lihat satu kesalahan kecil dari lawan. Cuma sepersekian detik. “Sekarang.” Nggak perlu teriak. Nggak perlu ...
Jam sudah lewat tengah malam, tapi Ardi masih duduk di depan layar. Lampu kamar redup, cuma cahaya monitor yang menerangi wajahnya. Di meja, ada gelas kopi yang sudah dingin, tanda kalau dia sudah main terlalu lama. “Ini match terakhir di VAKSIN99 ,” katanya pelan, walau dia sendiri tahu itu kalimat yang sudah dia ucapkan lima kali malam ini. Game online VAKSIN99 itu sudah seperti rutinitas baginya. Bukan cuma soal menang atau kalah, tapi soal pelarian dari hari yang melelahkan. Di dunia game, dia bisa jadi siapa saja—tank yang kuat, sniper yang tenang, atau mage dengan skill mematikan. Match dimulai. Timnya terdiri dari lima orang asing yang belum pernah saling kenal. Seperti biasa, chat langsung ramai. “Mid gue.” “Jangan rebut buff.” “Main santai aja, bro.” Ardi cuma mengetik satu kata: “Gas.” Awal permainan di VAKSIN99 berjalan cukup baik. Mereka unggul skor. Semua terlihat mudah. Tapi di pertengahan match, satu kesalahan kecil bikin keadaan berubah. Satu teman timnya terl...